Sabtu, 09 Februari 2013

cerpen pertamaku ^^ Kasih yang Berselimut



Kecil dan terpencil. Suara jangkrik dan katak yang bersahutan akan kau dengar sepanjang malam membentuk irama syahdu dan lembut yang cocok sebagai musik pengantar tidur. Begitupun dengan kunang-kunang, ia akan selalu gentanyangan menghiasi langit yang gelap, semakin gelap semakin ramai saja. Dan berlalu dengan udara pagi yang menusuk-nusuk tulang berlanjut oleh sapuan fajar yang mengintip dengan malasnya dari timur serta diiringi kicauan burung dengan suaraya yang riang.
            Begitulah pagi-malam terus berlanjut. Hingga ribuan malam terlewatkan oleh Sora, hingga kini ia menginjak usianya yang ke 18. Siapa yang tak betah tinggal di tempat sedamai ini. Tetapi, banyak juga warga setempat pergi meninggalkannya, berpikir bahwa bekerja di luar kota akan lebih mampu mengubah garis keturunan. Padahal, tempat-tempat seperti inilah incaran para konglomerat asal kota untuk berlibur dan bersantai. Seharusnya.
            Dan inilah yang membuat Sora enggan meninggalkan tempat asalnya yang begitu damai menurutnya. Ia berasal dari keluarga harmonis yang saling menyayangi dan merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Tak dapat dihindari kalau memang ia anak yang manja, dan memang terbiasa dimanjakan oleh ibunya. Bukan karena disengaja ibunya berbuat demikian, bukan pula karena dari segi materi yang berlebih. Tetapi karena kelembutan dan kasih sayang ibunya yang kadang kelewat batas. Wujudnya bukan dalam bentuk puluhan boneka, motor bahkan mobil. Tetapi tenaga dan pikirannya sanggup ia korbankan demi anak-anaknya. Siang malam ia relakan untuk terjaga untuk mengumpulkan puing-puing harta dengan apapun caranya dan juga untuk memohon pertolongan Tuhan meminta jalan bagi anaknya yang tengah dalam perjuangan hidup menjadi orang yang sesungguhnya. Sabar, lemut dan pekerja keras itulah sosok ibu Sora, yang membuat Sora amat  mengaguminya. Sangat mengagumi segala bentuk tutur maupun tingkah ibunya yang nyaris sempurna menurutnya.
            Berbeda jauh dengan ayahnya. Ayahnya begitu pemalas dan juga pemarah. Ini juga yang menjadi lunturnya rasa hormat Sora pada ayahnya. Rasanya tak ada yang bisa ia harapkan dari ayahnya itu.
* * *
            “Hallo.. Assalamu’alaikum,” Sora membuka telepon.
            “Wa’alaikumsalam.. Sora. Ada apa kok tumben sekali kamu menelpon ibu?” dengan suara hangat bercampur rindu.
            “Tidak ada apa-apa Bu. Besok Sora ada ujian semester, Sora hanya minta doa ibu saja agar Sora bisa lulus.”
            “Ooh begitu. Iya Sora, ibu doakan apapun yang terbaik untuk Sora.  Lalu kapan kamu akan pulang nak? Kamu jarang sekali pulang semester ini. Keponakan kamu sudah pada kangen sama kamu?”
            “Iya bu. Segera setelah selesai ujian. Ya sudah ya Bu. Sora ada banyak sekali tugas yang harus dikerjakan. Ibu jaga kesehatan di rumah jangan terlalu banyak pikiran. Di sini Sora akan selalu baik-baik saja, kan ada mas Herry juga yang bantu-bantu Sora kalau Sora butuh sesuatu. Jadi, ibu tidak usah khawatir.”
            “Ya Sora. Semoga kamu selalu baik-baik saja. Jaga hubungan kalian baik-baik ya. Jangah sampai kalian terjerumus pergaulan yang buruk seperti anak-anak lain.”
            “ya Bu. Assalamua’alaikum,” sora menutup teleponnya.
            Sora memang tergolong anak yang mudah tersentuh alias cengeng. Ia tidak mau lama-lama menelpon ibunya,  jika ia tidak ingin becucuran air mata pada akhirnya. Jadi jika ia merasa kangen dengan ibunya, menelpon bukanlah solusi terbaik.
            Akhir-akhir ini Sora memang jarang sekali pulang. Bukan karena alasan tugas kuliah yang menumpuk. Tetapi, karena ia masih menyimpan sakit hati kepada ayahnya. Ia selalu merasa terhakimi jika berada di rumah. Ayahnya akan selalu mencari kesalahan untuk memarahinya. Bukan saja pada Sora, tetapi juga anggota keluarga yang lain. Bahkan tetangga pun tak jarang yang kurang menyukai ayah Sora yang terkenal dengan mulutnya yang pedas. Tetapi, Sora lebih tidak terima saat ayahnya menyakiti ibunya, denga membiarkan ibunya yang bekerja keras. Sedangkan ia sendiri duduk santai menonton televisi atau tidur.karena memang sifatnya yang cuek. Siapa yang bisa bangga dengan keadan ayahnya yang demikian. Ayah yang seharusnya melindungi. Sosok yang dihoramati, lucu dan menghangatkan keluarga. Sora sangat rindu dengan ayahnya yang demikian. Dulu sewaktu Sora masih kecil mereka sangat terlihat kompak. Selalu berjalan-jalan sore bersama dan memancing bersama. Tapi sekian tahun berlalu semuanya tampak sangat berbeda, semuanya berubah.
Entah ayahnya yang berubah atau karena Sora baru dapat memahami ayahnya saat ia menginjak kedewasaan.
            Tapi Sora harus merasa beruntung. Ia memang jauh dari keluarganya. Tapi disamping itu ada sosok lelaki yang selalu ada untuknya, yaitu Herry. Yang kebetulan masih satu kampus dengannya. Jarak kos mereka pun tidak terlalu jauh hanya 15 menit. Herry tak lain adalah pacarnya sejak dua tahun lalu di masa SMA. Dialah alasan mengapa Sora mengambil kuliah di Jogja dengan mati-matian. Segala bentuk tes ujian masuk ia coba demi mendapatkan kuliah di Jogja dan bersama Herry.
            Herry adalah satu-satunya laki-laki yang dapat Sora percaya dan dapat ia andalkan. Tetapi, Sora juga sadar Herry hanyalah pacar, dan belum lebih dari itu. Dan Sora pun sangat sadar apapun dapat terjadi terutama bila jodoh berkata lain, Sora takkan bisa apa-apa lagi. Sora memiliki satu orang kakak laki-laki yang sangat cuek dan dingin. Ia seakan memiliki dunianya sendiri. Sepertinya memang tak ada yang bisa diharapkan selain Herry. Tetapi, yang namnanya jalan, tidak mungkin hanya ada satu tikungan, seperti hidup ini.
* * *
            “Ra?” tanya Zola teman kos Sora.
            ”Ya La,” sedang sibuk menata buku yang berserakan di meja.
            “Kamu jangan marah ya?”
            “Apaan si La. Langsung aja mau ngomog apa. Gratis kok.”
            “Begini Ra, eemm... sebenarnya bagaimana hubungan kamu dengan mas Herry? Aduh aku binging harus mulai dari mana,”seakan kehabisan kata-kata.
            “Apa si La. Jangan buat aku bingung. Serius sedikit dong,”mulai panik.
            “Tidak apa-apa si sebenarnya. Hanya saja aku dengar berita tidak enak tentang kamu dan mas Herry. Aku hanya merasa tidak rela kalau kamu diberitakan seperti itu di balakngmu. Karena aku juga tahu kamu yang sebenarnya.”
            “Kamu belum ngomong ke intinya saja aku sudah bisa menebak La.”sahutnya kecewa. “ Aku tida tahu salah apa aku  ke dia, sampai tega memberitakan aku seperti itu di depen teman-teman yang lain. Kalu dia iri dengan aku, tidak seperti ini caranya. Inilah duri dalam daging. Aku harap kamu bisa membedakan siapa yang paling benar.”
            “Lalu kamu bagaimana?”
            “Mungkin aku akan dia saja dulu, klau sudah berlebihan aku baru akan bertindak.”
            “Tapi Ra, aku sangat tidak rela kalau seperti ini caranya. Aku memang percaya denganmu, tapi yang lain? Apa mereka juga memiliki perasaan yang sama denganku?”
            Sora termenung. Memikirkan jalan keluar apa yang harus dipilihnya. Terkadang Sora juga merasa risih dengan tatapan teman kosnya yang lain, yang seakan sedang menghakiminya. Ini gara-gara Raini pikirnya. Sahabat kecilnya yang hilang, itulah sebutan yang cocok untuknya.
            “Ni..!” panggil Sora dengan nada sedikit kesal. Sebenarnya ia tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi lama-kelamaan ia tidak tahan juga dengan lidahnya yang tajam.
            “Apa?”seperti dapat menebak isi pikiran Sora.
            “Aku tidak habis pikir sama kamu. Aku tidak menyangka, kamu tega  menusukku dari belakang seperti ini. Boleh kamu ambil semua perhatian teman-temanku itu. Boleh. Tetapi bukan seperti ini caranya. Kamu mengumbar sejuta berita bohong tentangku kesemua orang kan, kalau aku sudah berbuat yang tidak-tidak dengan mas Herry?” dadanya mulai sesak.
            “Ngomong apa? Aku tidak merasa ngomong sesuatu yang tidak-tidak semua tentang kamu. Kalau semua menjauhi kamu, toh itu karena perbuatanmu sendiri.”jawab Raini yang mulai takut.
            “Tidak usah pura-pura tidak tahu. Aku sudah mencium semua ulahmu. Busuk. Semuanya busuk! Aku tidak menyangka, sahabatku yang sejak SD setia padaku, baik padaku. Kini semuanya berbalik,” air matanya menderas menahan sakitnya ditikam oleh sahabatnya. Raini tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Apalagi merasa berdosa, tidak sedikitpun.
            “Sudah Sora sudah,” Zola menenangkan hati Sora dengan menuntunnya masuk kamar untuk menenangkan diri.
* * *
            Ada-ada  saja masalah yang harus dihadapi. Masalahnya pun bisa datang dari arah mana pun, termasuk dari orang yang dekat dengan kita. Dan kejadian ini cukup membuat Sora kesal, sampai tak sudi untik melihat wajah  Raini apalagi menyapanya. Raini pun  demikian. Seperti ada perang dingin yang terjadi dalm kos ini. Sora sungguh merasa dendam dan ingin pergi jauh-jauh darinya termasuk pindah kos. Mas Herry pun menyarankan hal yang sama, tetapi Sora masih ingin mempertimbangkannya.
            Kejadian  ini cukup mengganggu konsentrasinya, ia takut ujian kali ini akan kurang memuaskan. Ia juga tak ingin tersaingi musuh baruya. Tak hanya itu, Sora pun ingin membuktikan kepada teman-temannya yang lain bahwa dialah yang paling benar, paling bisa dalam segala hal. Nampaknya kini Sora telah terjebak dalam dendam yang menyelimuti hati gelapya. Tak bisa dihindari lagi kalau ia merasa senang saat Raini mendapat kesulitan, rasanya Tuhan mendengar kutukannya.
* * *
“Hallo.. iya Mas Herry. Nanti siang ya, Sora tunggu di kos. Dan jangan kesorean, takut nanti sore hujan di jalan. Iya.. iya Mas trimakasih. Wa’alaikumsalam,” Sora dengan sedikit meninggikan suaranya saat menelepon mas Herry. Berarap Raini akan mendengar dan merasa iri dengannya. Dan Sora akan merasa puas.
“Mau pulang hari ini kamu Ra?” tanya Zola. “ Bareng mas Herry lagi?”
“Iya dong La, ujianku sudah seleai. Tugas-tugaspunsudah aku kumpulkan semua. Makanya kamu cepat pulang biar tidak tiap hari lihat nenek lampir itu,”sambil berbisik.
“Sabar ya Ra. Anak-anak yang lain juga sudah mulai membencinya tuh. Karena, mulutnya yang suka berkomentar yang kurang anak pada mereka. Aku tidak menyangka kau pernah bersahabat dengannya,”
Liburan menyambut Sora. Menariknya keluar dari hari-harinya yang kelam selama berada di kos. Tapi di rumah pun tak beda jauh. Apa ia akan mendapat kecerahan dan kedamaian selama di rumah nanti, itu yang menjadi pertanyaan dalam hatinya. Wajah ayahnya selalu terbayang menakutkan. Tapi mungkin sesuatu yang baru akan terjadi atau entahlah.
* * *
“Assalamu’alaikum..” sambil membuka pintu.
“Oalaah nduk.. pulang sudah to. Bareng Mas Herry. Kok tidak disuruh mampir?”
“Iya Bu. Mas Herry capek, jadi tidak mau mampir. Lain kali saja katanya.”
“Ooh ya sudah kamu mandi dulu. Ibu sudah siapkan masakan kesukaan kamu.”
“Iya Bu. Jadi semangat kalau dengar kata makanan.”
Setelah Sora membersihkan diri. Telah siap hidangan yang berjejer rapi di meja makan. Ibu Sora memang sangat memahami apapun tentangnya, termasuk makanannya. Semua terhidangkan tanpa ada yang absen satu pun.
Ayah, ibu, dan anak makan malam bersama. Mereka sekarang bertiga. Semua kaka sora sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya masing-masing. Sora tampaknya bingung ingin mengambil makanan yang mana terlebih dahulu. Semua lauk belum terambil tetapi piring sudah terlihat penuh.
“Ada apa hari ini? Makanannya banyak sekali. Apa ada yang merayakan syukuran,” tanya ayahnya penuh penasaran melihat begitu banyaknya makanan pada meja makan.
“Hari ini kan Sora pulang. Kita harus menyambutnya dengan senang. Belum tentu Sora bisa makan di Jogja seperti ini setiap hari Yah. Ya kan Sora,” ibu Sora mencoba menjelaskan.
“Tapi ini sangat berlebihan Bu. Siapa yang akan menghabiskan ini semua. Sedangkan sekarang sudah malam. Uang untuk keperluan lainnya saja terbatas, malah bersenang-senang. Ibu  terlalu berlebihan memanjakan Sora. Makanya Sora tumbuh menjadi anak yang manja seperti ini. Semua kemauannya harus dituruti.:
“Ayah.. Sora ini sudah besar. Dulu memang dia manja. Tetapi, itu wajar karena dia masih kecil. Sekarang dia tampak begitu dewasa setelah jauh dari kita.”
Pertengkaran pun terjadi, ini hal biasa. Nafsu makan pun menghilang. Ayah sora meninggalkan meja makan sebelum selesai,menyusul ibunya. Sora di tinggal sendirian. Dengan menitikkan air mata akhirnya Sora membereskan meja makan yang menyisakan kejengkelkan.
Ia masuk kamar, menatap kosong ke arah langit-langit. Sambil ditatapnya tembok kamarnya yang catnya mulai lusuh karena usia. Tangisnya pecah dalam keheningan malam. Tak ingin ada yang mendengar, ia menutupinya dengan bantal. Ia menyesalkan kehadirannya di rumah ini. Juga menyesalkan memiliki ayah yang demikian. Jika Tuhan akan mengabulkan satu pemintaan Sora, ia akan meminta Tuhan untuk mengganti ayahnya dengan ayah-ayah yang lain. Melihat dan mendengarkan pertengkaran adalah hal yang paling ia tidak sukai. Sora pun terhanyut dalam kesedihannya, hingga tertidur.
* * *
Hari-hari liburan terlewatkan dengan sia-sia. Tak ada satu pun kenangan manis yang terbentuk. Hanya rasa lelah dan bosan dengan pertengkaran-pertengkaran. Hari ini adalah hari Yusidium. Dag dig dug jantung Sora selama tiga hari terakhir ini. Mahasiswa lain mungkin juga merasakan hal yang sama.
“Bu.. Sora ijin ke warnet ya. Mau melihat hasil yusidium. Doakan ya Bu.”
“Iya.. pergi ke warnet dengan Herry?”
“Tidak Bu. Mas Herry kan sedang PKL. Jadi, sendiri saja.”
“Oya ibu lupa. Ya sudah hati-hati ya Nduk.”
“ya Bu. Assalamu’alaikum,” bergegas membawa motor ayahnya yang butut. Awalnya ia ingin meminjam motor kakaknya saja. Karena motor ayahnya sering ngadat, remnya juga sering bermasalah. Tapi Sora tak ambil pusing. Soal ngadat atau tidak, ia akan pikirkan nanti. Yang ada dalam otaknya hanya kata yusidium.
Ternyata benar kekhawatirannya selama ini. Nilainya yang tertera kurang memuaskan. Ditambah lagi dengan adanya nilai K pada salah satu mata kuliahnya. Sontak ia langsung terkejut, darahnya berdesir-desir dengan cepat. Tak pernah terbayangkan sekalipun nilainya akan bermasalah, dan harus diurus langsung di kampus. Ia bingung akan bersama siapa ia akan pergi ke Jogja. Jika sendirian, ia masih belum berani. Dan belum pernah naik bus antarkota seorang diri.
“Hallo Ra?” sapa Venty di seberang telepon.
“Iya Ven. Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Hanya mau curhat saja. Hmmm nilaiku kok jelek banget ya. Nasib mungkin sedang tidak berpihak padaku kali ini.”
“Hehehe.. sabar Ven. Aku juga tidak begitu bagus semester ini.”
“Oh ya. Kok bisa ya. Padahal Riana cumlaud lho!”
“Oh?” nampak sangat terkejut dan sebal. “ Duh Ven, aku sudah ngantuk. Oooaaahhmm,” berpura-pura dan segera menutup telepon. Bibirnya bergetar. Semua terasa tidak adil, ia merasa paling benar tetapi mengapa Tuhan terus memihak Riana. Kapan Tuhan akan melihatnya dan memberi kasih padanya. Sora terus-menerus menghakimi Tuhan.
* * *
Besok pagi ia akan memutuskan untuk berangkat ke Jogja seorang diri. Tetapi sampai larut ia belum juga bisa memejamkan mata. Ia belum dapat merelakan kebahagiaan yang di dapat Riana. Ia merasa menjadi orang yang paling jatuh. Rasa iri tak dapat ia musnahkan. Hatinya hancur.
Tepat jam 9 pagi. Sora di antar ke terminal menunggu datangnya bus. Ayahnya msih menunggu di atas motornya. Sora duduk sendiri di tempat menunggu bus. Bus belum juga datang, sementara penumpang sudah memenuhi tempat menunggu. Sora mencari-cari ayahnya di antara kerumunan orang-orang, ternyata ayahnya sedang bersiap-siap meninggalkan terminal tanpa menunggu memastikan apakah Sora mendapatkan bus atau tidak. Sora pun sempat menduganya, tetapi bukan berarti ia tidak merasakan sedih. Ia merasa ayahnya benar-benar membenci Sora.
Saat bus akan datang, Sora baru menyadari bahwa barang bawaannya ada yang tertinggal di rumah. Dengan segera ia menelpon rumah meminta diantarkan ke terminal. Bus tujuan Jogja akhirnya datang. Lama menunggu ayahnya yang mengantarkan barang itu, tak juga terlihat. Akhirnya Sora memutuskan untuk segera naik ke bus, karena laptop yang tertinggal tidak begitu penting. Dalam hatinya berpikir bahwa bila nanti ayahnya sampai di terminal dan ia sudah berangkat, ayahnya akan segera kembali ke rumah dan mungkin akan marah-marah lagi.
Dalam perjalanan ia menyesalkan mengapa ia dengan cerobohnya meninggalkn laptop, yang mungkin akan dibutuhkan selaa perbaikan nilai di Jogja. Dalam lamunan Sora terkejut dengan suara dentuman keras pada bagian bus yang ia tumpangi. Pikirnya ada seseorang yang terserempet bus, dan reflek untuk melihat kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Seorang laki-laki tua berkaos hitam, bercelana pendek, dan bermotor butut tersungkur mengantam tembok gerbang rumah di pinggir jalan.
“Astaghfirulloh! Ayah!” teriak Sora sangat terkejut dan langsung turun dari bus menghampiri ayahnya yang ternyata orang jatuh itu.
“Ini Sora, tas kamu tertinggal di rumah. Ini bawa, cepat naik bus lagi. Nanti kamu tertinggal,” kata ayahnya dengan menyerahkan tas itu.
“Ayah tidak apa-apa?” Sora sangat begitu khawatir.
“Tidak apa-apa. Hanya motornya saja yang menabrak. Ayah tidak apa-apa. Cepat ayo sana naik. Sora pun mengikuti kata ayahnya untuk naik ke bus, setelah melihat ayahnya yang tampak tak terluka sedikitpun.
Dalam bus Sora terus mengangis. Sangat menyesali kejadian itu. Jika waktu dapat diulang ia tak akan meminta untuk diantar tasnya. Atau, ia akan menunggu ayahnya datang, baru ia kan naik bus. Sora tak peduli ia ada di bus penuh ini. Ia terus menangis dan menangis. Ia sangat menyesali kebencian yang ia alamatkan kepada ayahnya itu. Ia sangat menyesal dan merasa sangat berdosa besar.
“Hallo mba? Ayah sudah sampai di rumah belum?”Selang berapa menit, Sora menelepon orang rumah untuk memastikan apakah ayahnya sudah sampai di rumah. Tetapi tetap menjaga nadanya agar kakanya itu tidak khawatir.
“Sepertinya belum Ra. Kamu sudah berangkat?”
“Ayah belum pulang juga mba? Bagaimana ini mba? Tadi ayah kecelakaan terserempet bus Sora lalu menabrak tembok mba. Bagaimana bisa ayah belum pulang. Kejadiannya sudah 20 menit yang lalu,” Sora mulai panik, tangisnya pun semakin menjadi-jadi.
“Iya iya. Nanti kakak cari ayah. Sudah tidak usah menangis lagi. Ayah pasti idak apa-apa.” kakaknya langsung menutup telepon. Dan bersegera mencari ayah mereka. Ibuny yang ikut mendengar berita itu pun tak henti-henti menangis dan berdoa untuk keselamatan suaminya seorang.
Ya Alloh selamatkanlah ayahku. Lindungilah dia Ya Alloh. Maafkanlah aku yang selama ini telah membencinya. Aku salah menilai kasih sayangnya. Aku sangat menyesali itu. Apapun akan aku korbankan asalkan ayahku kembali dalam pelukkan keluarga kami.
Senin, 16 April 2012
21:00
TAMAT


3 komentar: