Kamis, 14 Februari 2013

Sinopsis Novel Sang Alkemis (Karya Paulo Coelho)



Dikisahkan perjalanan seorang pemuda penggembala bernama Santiago dari Andalusia dalam mewujudkan legenda pribadinya yaitu mencari harta karun di dekat piramida di Mesir. Ketika ia sedang tidur di bawah pohon di Andalusia, ia bermimpi tentang perjalannya ke piramida Mesir dan mendapatkan harta karun. Demi mewujudkan impiannya dari Eropa ia menyebrang ke Afrika.
Dalam perjalanannya, Santiago menemui banyak hambatan yang sempat membuat dirinya gentar. Perjalanannya ke piramida harus melewati gurun dan dalam novel ini gurun melambangkan cobaan yang harus dilalui dalam meraih cita-cita.
Ia sempat tertipu dan kehabisan uang, terjebak dalam perang antar suku di gurun, kudanya disita dan ia pun sempat ditahan oleh orang-orang gurun dan bertemu para perompak di Mesir.
Tetapi hambatan dan godaan-godaan itu sebenarnya juga datang dari dirinya sendiri. Ia hampir tergoda untuk mengurungkan niatnya dan kembali ke Andalusia. Atas anjuran si penjual kristal ia pun kembali mengajar mimpinya. Santiago juga hampir tergoda untuk pulang kembali ke Andalusia serta tidak melanjutkan perjuangannya ketika ia merasakan kenyamanan di daerah oase dan bertemu dengan gadis gurun.
Di akhir cerita, Santiago mewujudkan mimpinya sampai di piramida di Mesir. Tapi ia tak menemukan harta itu di sana. Ti tempat itu ia malah dirampok. Pemimpin perampok menertawakannya ketika Santiago menceritakan mimpinya. Pemimpin perampok itu pun bercerita bahwa ia pun bermimpi menemukan harta karun di sebuah pohon di Andalusia. Santiago pun kembali ke Andalusia dan menemukan harta karun yang terpendam di bawah pohon sycamore, tempat ia biasa menggembala.



Karakter-karakter yang ada pada lakon sandiwara ini boleh dibilang karakter nyata tentang kaum yang tersingkir, yaitu orang-orang desa keberadaan mereka dilingkungan kota. Nasib yang mengharuskan bahkan mungkin memaksa mereka untuk pergi dari desa yang telah diubah oleh orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri.
Naskah ini menceritakan penderitaan yang harus ditanggung oleh kaum tersingkir seperti disebut diatas (disini ditokohkan oleh Suami dan Istri). Mereka harus rela meninggalkan desa tempat mereka tinggal untuk bertransmigrasi karena desa yang mereka tempati akan digarap dan diubah menjadi lahan industri. Mungkin karena tempat dimana mereka ditransmigrasikan tidak memberikan mereka kehidupan yang layak, mereka akhirnya melarikan diri dari tempat transmigrasi tersebut untuk pergi ke kota besar (seperti misalnya Jakarta). Mereka menaruh harapan besar pada kota Jakarta. Namun Jakarta berkata lain, mereka kehilangan satu-satunya anak mereka yang masih bayi. Hal tersebut tidak sengaja dilakukan oleh salah satu dari tiga orang tukang sampah kotamadya yaitu oleh Tukang sampah I.
Disaat mereka kebingungan karena telah kehilangan satu-satunya harta yang mereka miliki yaitu anak mereka, mereka berada dalam keputus asaan yang sangat mendalam hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri karena tidak kuat menghadapi kenyataan hidup yang pahit yang harus mereka hadapi. Sang suami pun akhirnya mencari cara untuk bunuh diri dan dia pun mencari bahkan mencuri pisau dari para karateka. Ternyata pisau yang ia curi adalah pisau-pisauan untuk demonstrasi para karateka. Singkat cerita mereka dibunuh oleh para karateka secara tidak sengaja karena terlalu keras saat mengeroyok mereka dengan tangan kosong. Akhirnya mereka mati dan kemudian ditinggal oleh para karateka yang telah membunuh mereka. Salah seorang karateka tersebut beranggapan bahwa ia dan kawanannya telah mengamalkan ilmu yang mereka pelajari untuk kebenaran.
Tak lama berselang para tukang sampah kotamadya kembali ke tempat tersebut dan mencari sepasang suami istri itu. Yang mereka temukan ternyata hanya mayatnya, mereka pun berdebat tentang masalah bayi yang mereka bawa secara tidak sengaja. Dalam perdebatan tersebut muncullah roh suami dan istri yaitu orang tua dari bayi tersebut. Perdebatan pun kembali berlangsung dengan tambahan dua anggota yaitu roh suami dan roh istri, mereka membicarakan keputusan tentang bayi tersebut apakah harus dibunuh atau diadopsi oleh para tukang sampah. Ditengah perdebatan tersebut, muncul lagi dua roh yaitu roh seorang pemain sandiwara rakyat dan roh seorang mahasiswa perguruan tinggi seni drama. Mereka mengira bahwa roh pemain sandiwara rakyat tersebut adalah malaikat karena ia berjubah seperti malaikat dan bersayap, sehingga mereka meminta kebijaksanaan si malaikat tentang masalah bayi tersebut.
Sang malaikat yang ternyata adalah roh pemain sandiwara rakyat yang meninggal saat mementaskan drama dan berperan sebagai malaikat meminta kepada roh suami dan istri untuk mengulangi awal peristiwa terbunuhnya mereka. Akhirnya roh suami istri itu melaksanakan dan melakukan pengulangan peristiwa terbunuhnya mereka.
Dibagian pengulangan tersebut yang seharusnya mereka mati oleh para karateka terhambat dikarenakan para tukang sampah yang marah kepada para karateka. Mereka mengira hal itu adalah kejadian nyata. Maka tak dapat dinyana pengulangan adegan pembunuhan pun tidak terlaksana karena para karateka lari ketakutan saat ditantang berkelahi oleh para tukang sampah kotamadya tersebut.
Akhirnya roh malaikat menyuruh roh si kacamata untuk memanggil ruh para ulama dari berbagai macam agama yang ada di dunia. Dan muncullah 4 roh ulama perwakilan dari 5 agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Kristen/Katholik, Hindu dan Budha. Mereka meminta nasehat kepada para ulama agama dan hal itu diwakili oleh roh ulama agama Islam. Ternyata rohul Islam pun menceritakan tentang kehidupan mereka sewaktu masih hidup. Pada akhirnya keputusan tentang bayi tersebut diserahkan kepada orang tuanya. Maka keputusan pun diambil, mereka menyerahkan bayi mereka kepada tukang sampah III yang berkehidupan lebih baik daripada kedua kawan-kawannya. Tukang sampah III pun menyetujuinya. Para roh itupun pamit pergi kepada para tukang sampah kotamadya. Masalah pembunuhan inipun dilaporkan kepada polisi. Drama ini berakhir dengan bayi yang akhirnya diasuh oleh tukang sampah III.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar